Siang itu di Rumah mas Chrisye

Kenangan Kecil yang tercecer oleh : Dewo Hadi Soeprobo

Ivan Djokomono dari GSP Productions, suatu pagi diawal bulan April tahun 2005 menelpon saya di Handphone, “ Siang ini kita kerumah Chrisye, yuk. Membicarakan rencana tour yang akan kita kerjakan, lu punya waktu gak?” Saya waktu itu langsung mengiyakan, karna untuk meng-arrange ketemu Mas Chrisye agak sulit maklum mungkin sibuk sehabis release album “ Senyawa”.

Kami dipertemukan dirumah Mas Chrisye dibilangan kebayoran Jakarta Selatan, di Jl. Asem. Emil ,Manager Chrisye saat itu langsung menyambut dan mempersilahkan kami masuk. Kami duduk diruang tamu. Mas Chrisye tidak lama kemudian muncul, “ Van apa kabar? Sorry Van, gua baru pulang dari Singapore habis periksa tulang belakang gue, agak sakit.” Begitu sapaannya sambil sedikit mengeluh.

Beberapa menit kemudian Ivan dan Saya sudah menguasai pembicaraan, kami akan merencanakan Tur buat mas Chrisye, waktu schedulenya adalah dibulan Juli atau Agustus. Mas Chrisye yang menentukan sendiri bulannya, alasannya, setelah ia pulang berobat di Jerman. Ivan dan saya setuju. Tentunya dengan syarat juga kami harus mendapat sponsor dulu. Akhirnya Mas Chrisye, Emil, Ivan dan saya setuju.

Ivan bercerita waktu itu bersama bendera GSP-nya, sukses menyelenggarakn Konser “ Lelaki Super” dan “Dekade” mengutarakan beberapa pengalamannya, mulai dari sponsor, ijin dan persiapan artis. Dalam perencanaan konsernya Mas Chrisye, waktu itu saya mengutarakan dengan menuangkan satu konsep, ide dan produksi dilapangan dan digambungkan dari pengalaman Ivan. “ Mas kali ini kita main dikabupaten bukan dipropinsi. Mungkin orang-orang yang berada dikabupaten itu belum pernah lihat penampilan Mas Chrisye langsung. Kalau lihat di Televisi sih mungkin mereka sudah sering. Apalagi orang-orang dipropinsi. Yang akan datang menonton Mas Chrisye itu adalah, Ibu-ibu, Bapak-bapak, Kakek, Nenek, anak-anak semuanya tumplek disitu. Sudah tentu mainnya di Out door, kemungkinan besar dialun-alun. Produksinya sesuai riders.”

“ Wah gue belum pernah main dikabupaten, kalau kejadian asyik juga nih.” “ Kalau kehujanan bagaimana? Pake pawang hujan gak?” Begitu Mas Chrisye menanggapi.

” Tentu Panggungnya pake terpal diatas supaya gak kehujanan. Juga Just Incase kita pake pawang hujan.”

“ Pokoknya mas, produksinya kita buat sebaik mungkin, permintaan sesuai riders Mas Chrisye. Tapi paketnya Mas Chrisye jangan mahal-mahal. Tournya mungkin Cuma malam minggu doang kita jalan.” Sambung Ivan.

“ Oke nanti Emil yang mikirin band pengiring gue deh.Terus apalagi Van?”

“ Apalagi ya wo?” Ivan melempar kesaya.

“ Gak ada, Cuma minta ridersnya Mas Chrisye aja,biar kita bisa hitung secepatnya break down tour kita? Oya nama Tournya apa, Mas? Tour Senyawa?”

“ Jangan, kita pake nama Chrisye Tour 2005, tiap-tiap kota ada bintang tamunya beda-beda. Tapi lagu-lagunya sebagaian dari album Senyawa. Emil-lah yang akan nentuin bintang tamunya.”

“ Oke kalau gitu Mas. Oya, saya punya koleksi beberapa CD Mas Chrisye. Boleh gak CD koleksi saya ini tolong ditanda tanganin?” Saya mengambil beberapa CD Chrisye koleksi saya dari tas.

“ Wah banyak juga CD lu wo.” Mas Chrisye sambil tertawa menanda tanganin CD koleksi saya.

“ Van, kalau sudah gini, Tour kita harus jadi nih, ya gak Mas?” Saya timpali ke Ivan. Ivan senyum-senyum saja. “ Insyallah.” Jawabnya.

Setelah ngalur ngidul kami berempat berbicara kemana-mana. Tidak lama kemudian, Saya dan Ivan pamit pulang. “ Sampai ketemu lagi ya Mas, cepat sembuh ya. Emil nanti kita kontek-kontekan, ya.” Ivan menyudahi pembicaraan sebelum naik kemobil Saya.

Sebulan kemudian, Saya dan Ivan masih sering bertemu. Ivan yang terus melanjuti pertemuan-pertemuan bersama Emil. Saya tidak tahu, apakah pertemuan itu langsung ketemuan atau lewat telephone atau lewat email. Yang Saya tahu, Ivan masih menjajaki kesponsor-sponsor. Sedangkan batas yang ditentukan oleh Emil waktu itu sampai bulan Juni setelah dari Jerman, Mas Chrisye dan bandnya harus siap-siap latihan.

Sepulang dari Jerman, Saya lihat di salah satu program station TV, Mas Chrisye jadi bintang tamu disitu, berjalan dengan memakai tongkat. Saya langsung telephone Ivan.

“ Van, Chrisye udah datang tuh? Gimana Van? Sudah sembuh sakitnya?”

“ Gue gak tahu, Emil belum ngomong apa-apa ama gue. Ntar coba gue cari tahu deh” Ivan menyudahi pembicaraan, kayaknya dia lagi sibuk banget.

Beberapa hari kemudian Saya dan Ivan baru dapat kabar bahwa Mas Chrisye belum boleh ada kegiatan Konser untuk sementara waktu.

Benar saja, beberapa bulan kemudian Mas Chrisye dikabarkan tak sadarkan diri dan dirawat secara itensiv di RS. Pondok Indah.

Kesembuhan Mas Chrisye sempat membuat kejutan dan sempat pula Konser dibeberapa even sebagai bintang tamu bersama teman-teman Deteksi Production yang sebagai penyelenggara. Pada kesempatan itu, Saya dan Ivan belum berani melangkah lagi untuk mengajak Mas Chrisye, disamping itu juga Saya dan Ivan lagi banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal.

Akhirnya, Saya dan Ivan memang harus membuang jauh-jauh obsesi membuat Tour Tunggalnya Mas Chrisye. Yang rasanya kita tidak bisa memaksa memulainya dari awal dan juga tidak bisa memulainya dari tengah-tengah. Sedikitpun tidak bisa. Jadi? Saya dan Ivan memendam kerinduan itu, kerinduan sang legendaris saat bersama walau hanya sesaat.

Saat Mas Chrisye telah berpulang, Saya hanya dapat memandangi CD koleksi Saya yang ditanda tangani sendiri oleh Mas Chrisye.

Share

0 Comments



You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment