Si Kecil Super Sibuk

Catatan dari Jakarta International Java Jazz Festival 2006 – Eric Samantha, Majalah Gatra Edisi Maret 2006-

Seorang pria berpostur kecil berjalan cepat di lobby Jakarta Convention Center (JCC ). Ia melewati personel Inconito yang sedang dikerumuni penggemar sambil berbicara lewat telepone genggam. Tangan kirinya memegang Handy Talkie (HT). Sebagaimana ia tak peduli pada kerumunan tadi, ribuan penonton Java Jazz saat itu juga tak peduli padanya.

Padahal, kalau bukan karena pria berusia 46 ini, boleh jadi Festival Jazz terbesar ditanah air itu bakal tak enak ditonton. Juli Valda atau bang Juli, begitu nama pria Koordinator Produksi Java Jazz ini, Sejak 1 maret lalu, ketika perlengkapan panggung masuk ke JCC, Venue itu menjadi rumah sekaligus kantor bagi Juli. Tanpa assisten pribadi, Juli selalu terlihat sibuk. Kedua ponsel miliknya berdering tiap lima menit. HT dipingganya pun tak henti-hentinya berbunyi:” Bang Juli monitor?” Mulai anak buah hingga petinggi Java Jazz bergantian menghubunginya.

Gatra yang sempat mengikuti Juli selama empat jam, sehari sebelum festival dibuka, hanya sempat berbicara dengannya selama 30 menit. Itupun dilakukan sembari mengikuti langkah Juli dari satu panggung kepanggung lainnya, atau disela-sela diskusi dengan anak buahnya. Suatu kali, seorang anak buahnya mendekat. Ia tak hendak berkonsultasi. “Abang sudah makan?” Tanya sang anak buah. Juli diam sejenak. “ Sudah. Tadi pagi.” Jawab Juli. Yang bertanya Cuma bias mengernyitkan dahi. Jangankan makan, mandi saja Juli memang tak sempat.

Suatu pagi tahun lalu, ponsel Juli berdering, membangunkannya dari tidur lelap. Ternyata Peter F. Gontha! Ketua Panitia Java Jazz ini meminta Juli mengepalai urusan produksi festival itu. Peter menyebut Adri Subono, bos Java Musikindo, merujuk nama Juli. “ kalau waktu itu yang nelpon sekretarisnya, pasti langsung gue tolak,” kata Juli. Tahun ini Juli kembali terlibat dengan posisi yang sama. Namun kali ia mengajukan syarat : membawa tim yang ia miliki lewat bendera perusahaan En’S ( Entertainment Services ).

Memilih ayah dua anak ini memang tak salah. Ia punya pengalaman lebih dari cukup dalam hal memproduksi pertunjukan. Juli memulainya pada 1983. Bersama teman-teman nongkrongnya dikawasan Tebet, Jakarta Selatan, Juli menyelenggarakan “ Brewer Rock Music “. Dua tahun kemudian, ian menggelar “Jazz Rock” dengan bintang tamu : Barata Band, Acid Speed Band dan Emerald. Sebagai promoter masa itu, Juli mengaku lebih sering buntung dari pada untung. Apalagi praktek pemalsuan tiket sudah marak. Pada Tahun 1989, Juli ikut serta dalam tur album “ Raksasa” Godbless. Juli punya hubungan khusus dengan group band ini. Ia bercita-cita menjadi orang produksi, setelah melihat konser Godbless pada 1973. “ Kapan yah gue bikin acsara kayak gini,” katanya mengenang kejadian itu, Selesai tur “Raksasa”, Juli diajak kembali oleh Ian Antono yang kemudian membentuk Gong 2000.

Masuk ke era 1990-an, event organizer banyak bermunculan tapi tim produksibelum terlalu popular. Bersama rekan-rekannya, Juli, Eri Prabowo, Insaf dan Hari “ Koko” Santosa ( sekarang Deteksi Production ) mendirikan Span Entertainment. Mereka mendatangkan Dave Valentine, Kenny G serta GRP Band. Ia juga terlibat dalam pertunjukan David Copperfield, meski dengan bendera berbeda.

Juli pun sempat ikut memproduksi komnser Diana Ross, Toto dan MC Hammer bersama Sentra Entertainment. Boleh dibilang, Juli ada di hampir seluruh pertunjukan pada era 1990-an. “Dulu, selain produksi, gue juga garap pemasaran dan promosi”, katanya. Namun, setelah banyak menimba ilmu dari dunia panggung, ia memutuskan berkonsentrasi di bidang produksi.

Juli tidak pernah memasang tarif resmi bagi promoter yang memanfaatkan jasanya. Baginya, yang penting ada pekerjaan dan kepercayaan. Hampir semua promoter besar pernah bekerjasama dengannya. Juli menyayangkan orang yang menganggapnya hanya mau mengagarap proyek besar dengan bayaran mahal. “ Semua sama saja, kok,” Juli menegaskan.

Dalam bekerja, Juli memegang teguh pakem tidak makan teman dan tidak nyaplok client orang lain. “Dunia pertunjukan ini sempit,” katanya. Tidak ada satu jenis pertunjukan yang ia tolak: yang berbau dugem. Tak lain karena ia sudah meninggalkan alcohol dan dunia malam. “Meeting di Café aja gue udah ogah,” tuturnya.

Bagi Juli Java Jazz adalah event terbesar yang pernah ia kerjakan. Namun, baginya, konser Kantata Takwa pada tahun 1990 adalah yang paling berkesan. “Penontonnya 150.000 orang. Gue bangga” ujarnya.

Sebenarnya keikutsertaan Juli di Java Jazz tahun ini terancam batal. Pasalnya, anak kedua Juli diramalkan lahir pada 2 Maret tahun lalu. “Pak Peter juga sudah wanti-wanti,” katanya. Namun Tuhan berkata lain. Anak keduanya lahir lebih cepat, 17 Februari lalu.

Share

0 Comments



You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment