Lebih Sering Bekerja pada Hari Libur

(Dikutip dari Harian Merdeka 27 November 1997) – Oleh : Zoel Fauzy Lubis

Menekuni bisnis jasa hiburan memang bertolak belakang dengan jenis bisnis lainnya, paling tidak dari segi operasionalnya dan system manajemen yang dianut oleh para pelaku bisnis ini.

Dewo Hadi Soeprobo, presiden direktur En’S Entertainment Services menjelaskan bahwa dalam menjalankan perusahaannya mereka tidak membutuhkan banyak karyawan tetap yang setiap hari harus masuk kantor, dan tidak ada aturan jam kerja. Tidak adanya aturan jam kerja itu, bukan menyangkut masalah disiplin, tetapi lebih melihat pada situasi, kondisi dan sifat pekerjaannya.

“Kita malah lebih sering bekerja pada hari libur” ujar Dewo. Dan bahkan pada saat-saat tertentu biasa bekerja 2 x 24 jam secara terus menerus dan bila perlu lebih dari itu, seperti yang terjadi ketika mereka lang lang bhuana di 15 kota di Indonesia beberapa tahun lalu.

Dengan begitu banyak bidang pekerjaan yang ditangani, saat ini En’S Entertainment Services hanya digerakan oleh sekitar 5 tenaga tetap, sebagian berada di alamat Jl. Dempo I/74. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selebihnya adalah tenaga lepas yang dipanggil sesuai dengan proyek yang digarap.

“Masing-masing bidang pekerjaan memang dikoordinir oleh koordinator mereka sendiri”. Kata Dewo. Seperti tenaga usher misalnya, mereka adalah para mahasiswi dan model yang masing-masing punya koordinator. Begitu juga dengan bidang-bidang lainnya, seperti produksi dan sebagainya. Yang sewaktu-waktu dipanggil bila ada pekerjaan.

Biasanya, tenaga-tenaga seperti ini jumlahnya sangat sedikit, sehingga apabila mereka menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan mereka akan merasa rugi sebab tidak bisa bekerja ke perusahaan lain.

“kita paling-paling punya proyek empat dalam satu bulan” kata Dewo. Sehingga para tenaga-tenaga terampil itu memang tidak diusahakan untuk menjadi karyawan tetap agar mereka juga bisa ikut dengan produksi di perusahaan lain.

Direktur Operasi En’S Entertainment Services Juli Valda, mengatakan, bayangkan saja kita bisa kerja dari pagi sampai pagi lagi, bisa di kota besar atau di daerah terpencil. Bisa di ruang tertutup atau lapangan terbuka, “ujarnya”. Dengan pekerjaan yang cukup berat plus tantangan, orang-orang yang senang dengan dunia entertainment, kalau tidak berminat sebaiknya tidak menekuni bidang ini.

Yang menarik lagi, lanjut Juli Valda, seluruh pekerja yang mengerti dan menggeluti bidang entertainment ini rata-rata tidak menimba ilmu bidang ini secara formal lewat sekolah atau perguruan tinggi, sebab di Indonesia perguruan tinggi yang khusus di bidang ini masih belum ada. “jadi kita belajar dari pengalaman di lapangan”. Ujar Juli yang sudah 20 tahun lebih menggeluti bidang ini. Ia sudah menangani sejumlah pertunjukan-pertunjukan besar sekelas pertunjukan Phil Collins di Jakarta, Teh Kita yang menghadirkan sederetan kelompok-kelompok musik kondang yang digelar bersama MTV Musik Asia dan berbagai pertunjukan lainnya (lihat di Show Reference).

Selain minat di dalam bidang pekerjaan ini, katanya lagi, orang-orang yang bergelut di bidang ini harus mempunyai fisik yang baik dengan tingkat ketahanan yang tangguh, di samping nalar yang tajam untuk menangani hal-hal penting yang membutuhkan pengambilan keputusan dalam waktu singkat.

Ungkapan Entertainment Never Die banyak dijadikan slogan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang hiburan, dan mungkin saja slogan tersebut memang ada benarnya, sebab pada prinsipnya seluruh manusia membutuhkan hiburan.

Menjamurnya bisnis hiburan di era 1990-an, mendorong berbagai untuk menekuni bisnis ini. Salah satu diantaranya adalah berdirinya En’S Entertainment Services di bawah PT Selaras Gerak Semesta dan berkantor di Jl. Dempo I/74 Jakarta.

Orang-orang yang berada di belakang perusahaan ini memang orang-orang yang sebelumnya sudah cukup dikenal di kalangan dunia hiburan bertaraf nasional maupun internasional. Seperti Dewo hadi Soeprobo dan Juli Valda.

Apa dan bagaimana bisnis yang mereka jalankan lewat En’S Entertainment Services? Menurut Dewo yang bertindak sebagai presiden Direktur perusahaan ini, mereka lebih terfokus kepada bisnis penyedia jasa tenaga kerja dan konsultan.

Tenaga kerja yang terlibat di bidang pertunjukan mereka adalah orang-orang yang sudah dibekali denga pengetahuan tetang segala sesuatunya yang dibutuhkan oleh sebuah pertunjukan hiburan.

Tenaga-tenaga yang disediakan oleh En’S Entertainment Services ini, antara lain meliputi loader, usher, ticket takers, doorman, security artis, runner, laision office, stage crew, organizing ticketing, dan sebagainya.

Masing-masing bidang tersebut tentu saja mempunyai jalur pekerjaan sendiri, yang pendidikan formalnya belum ada di Indonesia. Sehingga pekerjaan seperti ini ditekuni lebih banyak berdasarkan pengalaman di lapangan.

Untuk pekerjaan ticket takers misalnya, atau yang dikenal dengan pemotong karcis di depan pintu masuk di sebuah acara pertunjukan musik. Secara sekilas pekerjaan mereka memang terlihat gampang, karena mereka hanya menyobek karcis dari setiap calon penonton yang masuk, tapi sebenarnya, tidak Cuma itu tugas mereka, karena mereka juga harus mengawasi karcis-karcis palsu, karcis bekas dan sebaginya.

Atau untuk pekerjaan yang disebut dengan runner atau orang yang kerjanya lalu lalang di arena pertunjukan, atau tepatnya orang yang mengjadi penghubung berbagai pihak yang berkepentingan dengan pertunjukan termasuk dengan si artis pengisi acara dan tim produksi lainnya.

Untuk menjadi seorang runner yang utama harus diketahui adalah istilah-istilah yang digunakan dalam entertainment production, baik itu yang berlaku secara nasional dan juga internasional, kalau kebetulan pertunjukannya sedang menampilkan artis internasional.

Ada lagi jenis pekerjaan yang disebut dengan organizing ticketing. Pekerjaan ini biasanya dilakukan bila ada sebuah pertunjukan besar seperti pertunjukan pesulap David Copperfield, dimana tiket untuk menyaksikan pertunjukan itu harus didistribusikan ke seluruh tiket box yang ada di jakarta, Bogor, Bandung dan sebagainya.

Dalam pekerjaan seperti ini, En’S Entertainment Services sebagai koordinator, misalnya selain mendistribusikan tiket tersebut ke berbagai tiket box juga memantau penjualannya setiap hari sampai ke penagihan uangnya.

Bagi yang tidak mengerti di bisnis ini, pihak organizer atau promotor yang menyelenggarakan pertunjukan bisa saja kebobolan karena dimasuki oleh para pemalsu tiket yang secara teknis sudah semakin canggih, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Untuk hal yang satu ini En’S Entertainment Services memang sudah sangat berpengalaman dan mengetahui secara rinci bagaimana mengamankan tiket sebuah pertunjukan, sejak mulai dirancang disainnya, masuk ke proses cetak sampai ke pendistribusiannya ke tiket box dan calon penonton. Sehingga kemungkinan tiket dipalsukan bisa dihindari.

Ada lagi jenis pekerjaan yang sebetulnya nyaris tak kelihatan tetapi sangat penting, seperti concept event, yang justru perannya sangat penting dalam sebuah acara atau dalam sinetron kira-kira dikenal sebagai skenarionya.

Share

0 Comments



You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment